Image for post
Image for post
Your friendly neighbourhood skateboarder

2020, tahun yang penuh dengan berbagai ujian komunal, yang memaksa kita sebagai masyarakat untuk memikirkan ulang cara berkegiatan sehari-hari, akhirnya berhasil dilewati. Saat saya dipaksa untuk lebih banyak berdiam diri di rumah, tentu akhirnya banyak hal yang dilakukan untuk mengatasi kejenuhan, sekadar untuk merasa hidup. Akhirnya, tanpa sadar tahun lalu pun saya tutup dengan menambah beberapa keterampilan baru. Ini dia 5 hal tersebut, saya urut berdasarkan mana yang paling menyenangkan.

1. Bermain skateboard

Ini saya letakkan paling atas, karena ini yang paling menyenangkan menurut saya. Olahraga ini benar-benar memaksa otot-otot saya untuk berkoordinasi dengan lebih presisi hanya untuk meluncur sembari mencapai keseimbangan. Perasaan…


Image for post
Image for post
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca beberapa pitch deck dari peserta lomba inovasi bisnis di sebuah perusahaan. Menariknya, banyak pitch deck yang menyatakan kelebihan mereka adalah “Kami tidak punya kompetitor, sehingga kami bisa menguasai pasar”.

Ini kemudian membuat saya berpikir, apakah absennya kompetitor berarti kemudian langsung berujung pada penguasaan pasar? Apakah semudah itu?

Saya kemudian merefleksikan perjuangan Labtek Indie di masa awal kami berdiri, lebih dari 8 tahun yang lalu. Saat itu, kami cukup idealis, keras kepala (maklum, masih muda). Kami merasa usaha kami bisa fokus pada menawarkan jasa pembuatan software custom yang menitikberatkan pada interaksi eksperimental (seperti penggunaan gesture…


Image for post
Image for post
Photo by Alex Jones on Unsplash

I’ve been running a short experiment on my personal life. I stopped tweeting for a week. For me, as a person who’s pretty much active on Twitter for the past ~10 years (I even promote it as a place to do quick user research on my latest writing), this is some achievement.

Achievement? Yes.

If 2020 teaches me something, it’s that I need to be mindful of every single thing I do because I’ll never know when I can’t do it again. I take “hanging out with a friend over a cup of coffee” for granted and look where we…


Image for post
Image for post
Photo by Noah Rosenfield on Unsplash

Dan ini bukan tanpa dasar yang kuat. Jika teman-teman kebetulan (atau terpaksa) memfollow akun Twitter saya, mungkin selain menemukan candaan saya yang kadang terlalu sektoral, teman-teman juga menemukan saya beberapa kali menanyakan pertanyaan untuk memancing respon tertentu dari para warga Twitter.

Contohnya ini, ketika saya menanyakan kenapa nasabah sebuah bank, tidak menggunakan produk mobile bankingnya

Atau yang baru saja kemarin terjadi, ketika saya ingin mensurvei, apa sih pain point terbesar yang dirasakan seorang pengguna aplikasi berbasis CLI/Terminal

Ini baru 2 contoh dari beberapa riset yang saya lakukan dengan terjun langsung ke pasar, meskipun tidak langsung, dengan perantara interface…


Image for post
Image for post
Photo by Bonneval Sebastien on Unsplash

Setelah berkecimpung dalam dunia UX selama nyaris 10 tahun ini, saya semakin yakin bahwa merancang “experience” dalam UX, adalah merancang sebuah alur kegiatan yang bertujuan untuk mencapai sesuatu (goal-based activity). Di awal, proses untuk memahami ini ternyata cukup sulit untuk digapai, dan kebiasaan menyebutkan UI/UX dalam 1 kata, juga tidak membantu, karena keduanya bisa mencakup domain yang berbeda. UI bisa dilihat, ada hal tangible yang bisa dirasakan, sehingga proses perancangannya bisa lebih mudah dibayangkan dan dilakukan.

Lalu bagaimana dengan UX? Apa sebenarnya yang dirancang dan didesain oleh seorang UX desainer? Apa yang sebenarnya dilakukan saat merancang sebuah “experience”?

Secara singkat…


Image for post
Image for post
Photo by Adam Grabek on Unsplash

“Saya ingin produk ini mudah untuk digunakan para user kita”

Angkat tanganmu kalau kamu pernah mendengar kalimat tersebut. Atau mungkin kamu pernah mendengar variasi lain seperti

“Kelebihan produk yang kita buat ini, adalah kemudahan penggunaannya. User kita tidak perlu menggunakan waktu lebih lama untuk…”

Setiap mendengar kalimat tersebut, hati saya selalu berdebar, karena untuk mencapai fase mudah, bukanlah pekerjaan yang selalu straightforward. Mudah, bukanlah hal yang sederhana untuk didefinisikan, lebih-lebih lagi jika harus diterjemahkan ke dalam bentuk produk. …


Image for post
Image for post
Photo by Randy Fath on Unsplash

Saya baru menyelesaikan membaca buku panduan tentang membuat aplikasi Cloud Native Stateful dari Lightbend, sebuah perusahaan konsultasi dengan spesialisasi di pembuatan sistem cloud native yang reaktif. Menariknya, bab awal buku itu, yang bercerita tentang teknologi serverless, justru saya anggap sebagai paparan yang menekankan pada aspek UX, alih-alih pembahasan teknologi murni. Mereka melihat serverless sebagai cerita yang belum selesai, terutama di sisi UX, bagaimana teknologi ini seharusnya bisa membantu menyelesaikan masalah operasional aplikasi di lingkungan enterprise. Tentu saja, ini pun juga diteruskan dengan berbagai paparan yang cukup teknis, yang menyangkut masalah bagaimana seharusnya implementasi teknologi tersebut dilakukan.

Cerita lain yang mirip…


Image for post
Image for post
Photo by Jo Szczepanska on Unsplash

MVP (Minimum Viable Product) adalah versi paling minimal dari sebuah produk yang dianggap sudah cukup untuk mewakili fungsi inti produk tersebut, yang kemudian dirilis untuk digunakan publik. Fase ini bisa dikatakan sebagai tahap awal sebuah produk, di mana seorang (atau sebuah organisasi) pemilik produk tersebut ingin menguji asumsinya: benarkah produk ini bisa menjawab permasalahan yang dibayangkan dan adakah yang rela menggunakan atau bahkan membayar untuk menggunakan produk tersebut. …


Image for post
Image for post
Photo by William Warby on Unsplash

Apa yang terjadi setelah UI sebuah aplikasi telah selesai didesain dan diimplementasikan di kode? Sebagai desainer, mungkin kita jadi penasaran, sejauh apa sih kualitas desain UI atau UX yang telah kita kerjakan? Lalu bagaimanakah cara mengukur kualitas tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa metric yang bisa kita gunakan untuk mengukur kualitas desain kita. Menurut saya pribadi, beberapa metric yang saya jabarkan di sini bisa memberikan penilaian objektif, alih-alih berdebat dalam kerangka subjektif seperti estetika visual. Sekedar catatan, ini bukanlah daftar metric terbaik, tapi gunakan ini sebagai titik awal pengukuran yang tentu saja bisa dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi Anda.

  1. Time…


Image for post
Image for post
Among Us yang sedang hits itu

Beberapa hari ini, saya dan kepala suku Labtek Indie, Saska, sedang cukup aktif bermain Among Us, bersama dengan teman-teman baik kita semasa kuliah dulu. Tentu saja, ini dilakukan di malam hari, saat semua kegiatan di rumah dan kantor sudah dirampungkan. Salah satu alasan kenapa ada di antara kami telat ikutan bergabung adalah “bentar ya, nunggu anak gw tidur dulu.”. Setup yang biasa kami gunakan adalah game di handphone masing-masing, sembari mengobrol di Google Meet yang dibuka di laptop. Sehingga pengalaman duduk bareng dan mengobrol, paling tidak bisa sedikit direplikasi.

Mustahil bagi saya untuk bilang kalau game ini tidak adiktif, karena…

Adityo Pratomo

Digital product maker. Do design and code just to see pixels give real-world values. Cyclist + Gamer + Metalhead. Also, proud dad and husband.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store