Yang Tidak Tertulis dari Penggunaan Tailwind

Photo by Max Böhme on Unsplash

Kalau kamu memperhatikan perkembangan dunia front-end web belakangan ini, nama Tailwind pasti tidak asing lagi. Tailwind adalah sebuah framework CSS yang memberikan sekumpulan peraturan siap pakai, dalam bentuk class yang bisa langsung diaplikasikan di sebuah elemen HTML. Framework ini berhasil mencapai traction tinggi di kalangan pengembang web berkat kemudahan dan keringkasan penggunaannya.

Namun, meski demikian, setelah mencoba menggunakannya untuk membuat sebuah landing page, saya merasa bahwa ini bukan untuk saya. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak klik dengan framework ini, termasuk di dalamnya, keharusan saya bolak-balik membaca dokumentasinya untuk menemukan nama class yang sesuai dengan properti CSS yang saya inginkan. Dan menumpuk elemen HTML dengan kombinasi berbagai class juga membuat proses maintenance code jadi tidak se-intuitif yang saya harapkan. Dan sentimen ini ternyata juga dimunculkan di beberapa artikel yang lucunya lahir tidak jauh dari ketika saya men-twit opini saya. Contoh di artikel ini dan ini.

Yang tidak kalah menarik, justru dari beberapa twit yang berseliweran soal pros & cons menggunakan Tailwind, saya dan beberapa teman pun akhirnya sepakat untuk berdiskusi di publik, menggunakan medium Twitter Space. Turut hadir di sana, mas @pveyes, @F2aldi, @dimassrio, @iSatrio, @rubiagatra, @arieare. Semua turut hadir membawa opini masing-masing soal Tailwind, dibungkus dalam suasana diskusi santai dan penuh tambahan wawasan.

Dari acara dadakan tersebut, ada beberapa poin soal penggunaan Tailwind yang rasanya perlu jadi perhatian untuk mereka yang baru mau menggunakan Tailwind ataupun yang tidak setuju, tapi masih terbuka untuk memberikan kesempatan kedua bagi framework ini.

1. Tailwind adalah peraturan atau konvensi bersama

2. Tailwind bisa bersinar saat front-end yang dibuat memang tersusun dari komponen-komponen independen

3. Twin Macro bisa jadi alat bantu untuk meng-customize Tailwind

4. Tailwind membantu dalam membuat produk, tapi pengetahuan fundamental CSS tetap dibutuhkan

Dengan demikian, berdasarkan diskusi tadi, saya merasa bahwa penggunaan Tailwind ini memang butuh use case yang tepat untuk merasakan penuh value-nya. Anggaplah Tailwind sebagai wasit yang memberikan standar permainan, sehingga semua yang ikut bermain bisa punya ruang gerak yang sama. Saat bermain bola dengan teman-teman, di jalanan, dalam jumlah sedikit, mungkin kita tidak perlu wasit, dan keberadaannya pun bisa dianggap redundant karena semua orang tahu apa yang boleh/tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, saat sebuah pertandingan bola di liga profesional, dengan hasil yang punya implikasi tidak main-main, absennya wasit justru akan berdampak pada kekacauan masif.

Saya mungkin akan memberikan kesempatan lagi pada Tailwind, dengan konteks pekerjaan yang sesuai. Bagaimana dengan kamu?

Digital product maker. Do design and code just to see pixels give real-world values. Cyclist + Gamer + Metalhead. Also, proud dad and husband.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store